November
Aku teringat kembali tentang November, dimana hujan dan kata - kata begitu rinai. Ini tentang November; yang didalamnya bulan pernah jatuh ke bumi. Ia tidak mati, hanya saja jatuhnya membangun kisah - kisah yang kubangun tanpa sedikitpun resah.
Disana aku pernah memelukmu, menjadikanmu satu - satunya raga yang kutuju, meneriakkan namamu keras - keras agar kau tak pergi, menabrak rasi - rasi yang menertawai kenangan yang kubenci. Aku menahan mendung, bersikeras membendung agar tak lekas memuai turun menjadi bulir - bulir air. Namun aku salah, kau terlampau hebat lebih dari yang aku kira, hingga kau mampu melangitkan luka diatas atap duka dan menjadikannya hujan tanpa melewati mendung yang seharusnya ada.
Kau mungkin lupa, akulah yang memapahmu kala luka menggelayuti kakimu hingga kini kau mampu kembali berjalan; berlari kencang, pergi. Atau aku yang lupa bahwa hari ini yang terlihat, sering kali tidak sesuai ekspektasi. Orang sepertimu tidak akan pernah sadar akan nadi yang telah kau buat bergetar, terlebih untuk mau peduli akan hati yang kau buat menanti.
Kini November hanyalah cerita, bersama sesak yang meracau tak karuan. Hujan yang rintik menitik dibulan November kini tak lebih tabah dari air mata yang lumpuh atas kabar bahagiamu. Segala kata "mati" berkamuflase menjadi doa bahagia yang kusebutkan untuk kisah barumu. "Doakan aku juga ya?" kataku dalam hati. Dengan melangkahkan kaki menghampiri dia, cerita baruku.
Disana aku pernah memelukmu, menjadikanmu satu - satunya raga yang kutuju, meneriakkan namamu keras - keras agar kau tak pergi, menabrak rasi - rasi yang menertawai kenangan yang kubenci. Aku menahan mendung, bersikeras membendung agar tak lekas memuai turun menjadi bulir - bulir air. Namun aku salah, kau terlampau hebat lebih dari yang aku kira, hingga kau mampu melangitkan luka diatas atap duka dan menjadikannya hujan tanpa melewati mendung yang seharusnya ada.
Kau mungkin lupa, akulah yang memapahmu kala luka menggelayuti kakimu hingga kini kau mampu kembali berjalan; berlari kencang, pergi. Atau aku yang lupa bahwa hari ini yang terlihat, sering kali tidak sesuai ekspektasi. Orang sepertimu tidak akan pernah sadar akan nadi yang telah kau buat bergetar, terlebih untuk mau peduli akan hati yang kau buat menanti.
Kini November hanyalah cerita, bersama sesak yang meracau tak karuan. Hujan yang rintik menitik dibulan November kini tak lebih tabah dari air mata yang lumpuh atas kabar bahagiamu. Segala kata "mati" berkamuflase menjadi doa bahagia yang kusebutkan untuk kisah barumu. "Doakan aku juga ya?" kataku dalam hati. Dengan melangkahkan kaki menghampiri dia, cerita baruku.
Lanjutin ceritanya dong kak!
ReplyDelete